
oleh : Mario Alisjahbana
Saat ini berbicara mengenai kewiraswastaan sedang sangat populer. Semua orang menganggapnya hebat, semua ingin menjadi wiraswasta dan orang2 bijak berlomba membagi nasehat bagaimana kiat menjadi wiraswasta.
Apabila orang banyak telah mencapai konsensus, saya cenderung untuk melihat dan menggali, men cari2 apakah mungkin ada hal yang bernilai tinggi yang terlupakan atau terabaikan. Hal2 yang berguna bagi mereka yang ingin mendapatkan pemahaman yang lebih jernih mengenai sesuatu. Inilah yang saya temukan :
Kebanyakan orang tidak mempunyai karakteristik yang tepat untuk menjadi wiraswata yang berhasil. Paling tidak , kebanyakan orang Indonesia tidak. Ada sejumlah alasan untuk hal ini, tapi saya akan menyempitkannya menjadi tiga saja.
1. Wiraswasta yang berhasil adalah kombinasi antara penjudi berani yang berdarah panas dan analis yang berdarah dingin dan penuh perhitungan. Kebanyakan orang dua2nya pun bukan, apalagi kombinasi dari keduanya. Saya percaya bahwa ini bagian dari kultur dan warisan nenek moyang kita. Apakah anda melihat diri anda sebagai orang yang seberani itu ? Atau senekad itu ? Para wiraswasta seringkali tidak mempunyai informasi cukup untuk membuat keputusan2 investasi yang aman, maka hendaknya mereka adalah orang2 yang merasa nyaman dengan berspekulasi sedikit. Dilain pihak, mereka juga akan berusaha mati2an untuk memperoleh informasi yang se banyak2nya agar mereka dapat mengambil keputusan yang sebaik mungkin. Kedua karakteristik yang berlawanan ini tidak hadir sekaligus dalam kebanyakan orang.
2. Wiraswasta yang sukses bekerja keras, jauh lebih keras dari kebanyakan pegawai. Bisnis mereka dengan mudahnya menelan jiwa mereka dan segalanya yang lain menjadi nomor dua. Bekerja 12, 15 jam sehari seringkali adalah kondisi normalnya bukan kondisi istimewanya, bagi wiraswasta2 yang sukses. Ini datang dari obsesi mereka dengan ide2nya dan keinginannya yang bergelora untuk menjadikan ide2 tersebut kenyataan. Bekerja sekeras ini berakibat pengorbanan dalam berkeluarga, hidup sosial dan hal2 lain. Tidak terlalu banyak orang yang saya kenal yang siap melakukan pengorbanan2 ini dalam jangka panjangnya.
3. Wiraswasta yang berhasil akan mengalami saat2 yang paling menyakitkan dan menakutkan murni karena mereka memilih untuk menjadi wiraswasta ketimbang menjadi pegawai dari perusahaan yang baik. Wiraswasta yang relatif hati2 akan berusaha membatasi resiko finansialnya, tetapi kebanyakan, untuk tidak mengatakan semua, wiraswasta sukses yang pernah saya kenal pernah mengalami tekanan keuangan yang sangat besar. Bisnis tidak selamanya berjalan sebagaimana kita harapkan dan seringkali cuma merugi. Lama2 harta si wiraswasta bisa tersedot ke dalam bisnisnya itu sampai seluruh kekayaan pribadinya juga terancam habis. Kemudian timbullah ketegangan dan ketakutan yang mencekamnya di setiap dini hari. Apa yang akan terjadi bila bisnis ini tidak bisa diselamatkan ? Bagaimana saya akan membayar gaji, pesangon dan hutang2 lainnya ? Apakah saya akan dipermalukan di hadapan orang2 yang saya kenal ? Apakah saya akan terpaksa menjual rumah dan harta saya lainnya ? Apa pikiran isteri/suami saya kepada saya nanti ?
Waktu2 seperti ini adalah waktu yang paling menyakitkan dan paling menakutkan dalam kehidupan seorang manusia. Seorang wiraswasta adalah manusia yang sendiri-mandiri. Pada akhirnya dia akan harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya dan dia harus sendirian menanggung segala akibat dari kegagalannya. Tidak mempunyai induk sebagai tempat berlindung adalah ciri khas kehidupan wiraswsta dan jelas tidak pas untuk semua orang.
Untuk anda semua yang sedang menimbang2 untuk menjadi wiraswasta, saya sarankan agar anda meluangkan waktu sejenak untuk mempertimbangkan apakah kehidupan seperti ini cocok untuk anda. Sesungguhnya, orang kebanyakan lebih menyukai rasa keamanan dan keselamatan yang didapati bila bekerja untuk perusahaan atau lembaga yang besar dan mapan. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Orang kebanyakan tidak menginginkan naik-turun yang meroket, terutama turun yang meroket, yang menjadi bagian dari kehidupan seorang wiraswasta.
Yakinkah anda bahwa yang seperti ini yang anda inginkan ?
Sabtu, 28 November 2009
Wiraswasta dan Tiga Kejutan yang Tak Terpikirkan
Diposkan oleh Hidayat di 13:27 0 komentar Link ke posting ini
Label: brebes, BUMIAYU, jawa tengah
Minggu, 22 November 2009
Kisah Sukses Wong Brebes Jawa Tengah

sumber :yukbisnis
Dulu Kondektur Sekarang Juragan Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga toko bangunan.
Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini membuahkan hasil. Grup usaha PT. Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Brebes, Tegal & Pemalang. "Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa berhasil," ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini mantap.
Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. "Saya benar-benar mulai dari nol besar," tandas bapak tiga anak ini. Merintis Sukses Dari Berdagang Bambu
Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya bertani di sawah.
Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti pada 1981. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.
Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. "Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan," tutur Muhadi.
Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban bulan.
Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. "Kekurangannya saya pinjam dari bank," ucapnya terus terang.
Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.
Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.
Masih Muda Sudah Kaya Raya
Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya.
Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.
Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden. "Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa," tuturnya merendah.
Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. "Saya baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya.
Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.
Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan
Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi berantakan akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah. Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.
Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada", kenang Muhadi.
Diposkan oleh Hidayat di 18:29 0 komentar Link ke posting ini
Label: brebes, BUMIAYU, jawa tengah


